Ada satu kemampuan Tanjiro yang menurut saya menarik kalau dibawa keluar dari dunia Demon Slayer dan kita renungkan dalam kehidupan sehari-hari.
Namanya Transparent World.
Dalam cerita, kemampuan ini bukan sekadar membuat Tanjiro bisa melihat lebih tajam. Ia seolah mampu melihat menembus tubuh lawannya: aliran darah, kontraksi otot, gerakan sendi, bahkan perubahan kecil yang terjadi sebelum sebuah serangan benar-benar dilancarkan. Karena itu, Tanjiro bisa membaca gerakan lawan sebelum gerakan itu benar-benar menjadi serangan. (Demon Slayer Wiki)
Saya jadi berpikir, jangan-jangan ada sesuatu yang mirip dengan itu dalam kehidupan kita.
Bukan mata yang menjadi lebih tajam.
Tetapi kesadaran.
Semakin sadar seseorang, semakin banyak hal yang sebelumnya tidak terlihat menjadi terlihat.
Dan mungkin, salah satu tanda kesadaran yang semakin tumbuh adalah kita menjadi semakin sadar bahwa Allah selalu melihat kita.
Dulu Kita Hanya Melihat Perbuatan. Sekarang Mulai Melihat Apa yang Ada di Baliknya
Ada masa ketika kita mungkin berpikir bahwa dosa itu hanya sesuatu yang jelas-jelas dilakukan.
Berbohong, mengambil hak orang lain, marah, menyakiti orang, melihat sesuatu yang tidak semestinya dilihat.
Selesai.
Tetapi semakin kita belajar, semakin kita menyadari bahwa persoalannya ternyata jauh lebih dalam.
Kadang masalahnya bukan hanya apa yang kita lakukan, tetapi mengapa kita melakukannya.
- Kita membantu seseorang. Bagus. Tetapi kemudian kita berharap orang lain tahu.
- Kita berbicara tentang ilmu. Bagus. Tetapi diam-diam kita berharap dianggap paling berilmu.
- Kita bekerja keras dalam sebuah kegiatan. Bagus. Tetapi ketika nama kita tidak disebut, hati mulai terasa tidak nyaman.
- Kita menasihati orang. Bagus. Tetapi ternyata ada sedikit rasa senang ketika melihat orang lain mengakui bahwa kita benar.
Di sinilah saya merasa konsep Transparent World menjadi menarik sebagai sebuah metafora.
Kesadaran membuat kita mulai melihat gerakan yang terjadi di dalam diri sebelum gerakan itu menjadi tindakan. Dalam beragama maupun berkehidupan, kita diajak untuk tidak hanya terpaku pada dimensi permukaan yang tersurat (Fikih), melainkan harus mampu menembus hingga ke kedalaman niat dan hakikat yang tersuruk (Tasawuf) .
Ego Itu Sering Bergerak Sebelum Kita Menyadarinya
Kadang sebelum kita marah, ada sesuatu yang bergerak lebih dulu.
Harga diri kita tersentuh.
Sebelum kita ingin membalas komentar orang, ada sesuatu yang berkata dalam hati:
"Masa saya diperlakukan seperti itu?"
Sebelum kita ingin memamerkan keberhasilan, ada sesuatu yang berbisik:
"Biar mereka tahu juga siapa saya."
Sebelum kita ingin mengoreksi orang lain, mungkin ada sesuatu yang diam-diam berkata:
"Saya lebih tahu daripada dia."
Menariknya, kalau kita hanya melihat tindakan akhirnya, kita mungkin merasa semuanya biasa saja.
Kita marah karena memang orang itu salah.
Kita menjelaskan karena memang kita tahu.
Kita mengunggah karena memang kegiatannya bagus.
Kita berbicara karena memang ingin berbagi.
Tetapi kalau kesadaran kita mulai terlatih, kita mulai bisa melihat sesuatu yang lebih halus.
"Sebentar. Sebenarnya apa yang sedang bergerak di dalam diri saya?"
Nah, mungkin di situlah Transparent World kehidupan kita dimulai.
Bukan ketika kita bisa melihat tubuh orang lain.
Tetapi ketika kita mulai mampu melihat gerakan hati sendiri.
Semakin Sadar, Semakin Banyak yang Harus Kita Jaga
Ini yang menurut saya agak unik.
Biasanya kita mengira semakin banyak ilmu, semakin bebas kita bergerak.
Ternyata bisa jadi justru sebaliknya.
Semakin sadar seseorang, semakin banyak hal yang ia jaga.
Orang yang tidak sadar bisa berkata,
"Ah, cuma melihat sebentar."
Orang yang kesadarannya tumbuh mulai bertanya,
"Perlukah saya melihatnya?"
Orang yang tidak sadar bisa berkata,
"Ah, cuma bercanda."
Orang yang kesadarannya tumbuh mulai bertanya,
"Jangan-jangan candaan saya sedang melukai orang?"
Orang yang tidak sadar bisa berkata,
"Saya kan memang mampu."
Orang yang kesadarannya tumbuh mulai bertanya,
"Kenapa saya ingin sekali orang lain tahu bahwa saya mampu?"
Orang yang tidak sadar mungkin hanya melihat hasil amal.
Orang yang mulai sadar juga melihat niat di balik amal.
Itulah mengapa kesadaran kepada Allah seharusnya bukan hanya membuat kita lebih rajin melakukan kebaikan, tetapi juga membuat kita semakin peka terhadap hal-hal kecil yang bisa merusak kebaikan itu.
Termasuk ujub.
Termasuk riya.
Termasuk keinginan untuk dipuji.
Termasuk keinginan untuk terlihat saleh.
Termasuk keinginan untuk selalu dianggap benar.
Riya Bisa Muncul di Tempat yang Tidak Kita Sangka
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang sesuatu yang beliau khawatirkan menimpa umatnya, yaitu syirik kecil, yakni riya. Dalam riwayat tersebut, riya dijelaskan sebagai melakukan amal agar dilihat atau diperhatikan manusia. (Sunnah)
Menariknya, riya tidak selalu berbentuk sesuatu yang vulgar.
Tidak selalu seseorang berdiri lalu berkata,
"Lihat, saya sedang beramal."
Kadang ia sangat halus.
Bahkan mungkin kita sendiri tidak menyadarinya.
Kita melakukan sesuatu karena Allah.
Kemudian seseorang memuji.
Hati kita senang.
Itu manusiawi.
Tetapi kalau kemudian kita mulai menginginkan pujian itu, mengejarnya, bahkan mengubah cara kita beramal agar mendapatkan pujian, di situlah kita perlu berhenti sebentar.
Ada gerakan kecil di dalam hati yang perlu kita lihat.
Seperti Tanjiro melihat gerakan kecil pada tubuh lawannya sebelum serangan datang.
Bedanya, musuh kita kali ini bukan orang lain.
Yang perlu kita amati adalah diri sendiri. Padahal, hasrat untuk selalu pamer dan menunjuk-nunjukkan kelebihan (entah itu kesalehan, kecerdasan, atau kekayaan) hakikatnya adalah wujud kemiskinan batin dan sekadar upaya pencitraan belaka . Manusia sejati justru lebih sibuk membangun interior (karakter) ketimbang memoles exterior (status) .
Begitu Juga dengan Menjaga Pandangan
Al-Qur'an bahkan mengajarkan sesuatu yang sangat praktis: orang beriman diperintahkan untuk menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan diri. Allah juga mengingatkan bahwa Dia mengetahui apa yang kita kerjakan. (Quran)
Saya suka melihat ayat ini bukan hanya sebagai perintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Ada latihan kesadaran di dalamnya.
Kita melihat sesuatu.
Kemudian kita sadar:
"Saya sebaiknya tidak terus melihat."
Lalu kita mengalihkan pandangan.
Itu bukan sekadar gerakan mata.
Itu adalah latihan membaca diri.
Sebab sering kali godaan tidak datang dalam bentuk perintah yang keras.
Ia datang sangat kecil.
Satu pandangan.
Kemudian pandangan kedua.
Lalu rasa penasaran.
Kemudian kita mencari lagi.
Kalau kesadaran kita terlambat, mungkin kita baru sadar setelah semuanya jauh lebih sulit dikendalikan.
Tetapi orang yang semakin peka bisa menangkapnya lebih awal.
"Ini mulai bergerak ke arah yang tidak baik. Saya berhenti sekarang."
Itulah kewaspadaan.
Ada Kisah Nabi Musa yang Menarik untuk Direnungkan
Dalam kisah Nabi Musa 'alaihissalam ketika sampai di Madyan, Al-Qur'an menceritakan bahwa beliau menemukan dua perempuan yang sedang menahan ternaknya dari kerumunan para penggembala, kemudian Musa membantu memberi minum ternak mereka dan setelah itu menyingkir ke tempat teduh. (Quran.com)
Adapun kisah bahwa Musa meminta perempuan tersebut berjalan di belakangnya agar beliau tidak melihatnya, itu muncul dalam penjelasan sebagian kitab tafsir/riwayat, bukan dalam teks Al-Qur'an secara langsung. (Tafsir Ibn Kathir dan Ma'arif al-Qur'an)
Bagi saya, terlepas dari detail riwayatnya, ada sebuah nilai yang menarik untuk direnungkan:
orang yang sadar bukan hanya menghindari dosa setelah dosa itu terjadi; ia berusaha mengenali situasi yang berpotensi membawa dirinya menuju dosa.
Ini berbeda.
Yang pertama bersifat reaktif.
Yang kedua bersifat preventif.
Seperti orang yang tahu dirinya mudah tergoda makanan tertentu. Ia tidak menunggu sampai lapar berat lalu berdiri di depan makanan itu sambil berkata, "Saya harus kuat."
Kadang bentuk ikhtiar yang lebih sederhana adalah tidak terlalu dekat dengan sumber godaan.
Bukan karena merasa paling suci.
Justru karena sadar bahwa dirinya bisa lemah.
Dan kesadaran semacam itu menurut saya jauh lebih sehat daripada merasa,
"Saya tidak mungkin tergoda."
Semakin Mengenal Allah, Semakin Kita Mengenal Kelemahan Diri
Ini mungkin salah satu paradoks dalam perjalanan spiritual.
Kita mungkin mengira semakin dekat kepada Allah, kita akan semakin merasa hebat.
Justru sering kali yang terjadi sebaliknya.
Kita semakin sadar bahwa kita ini lemah.
- Semakin banyak ilmu, kita semakin sadar betapa banyak yang belum kita tahu
- Semakin sering beribadah, kita semakin sadar betapa mudahnya hati berubah
- Semakin mengenal keikhlasan, kita semakin curiga terhadap niat sendiri.
- Semakin memahami tawakal, kita semakin sadar bahwa kemampuan kita sebenarnya terbatas.
Dan semakin menyadari Allah Maha Melihat, kita semakin malu melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita lakukan jika ada orang lain yang melihat.
Kesadaran kepada Allah seharusnya membuat kita lebih rendah hati, bukan semakin merasa tinggi.
Sebab kita mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat:
ternyata musuh terbesar dalam sebuah amal tidak selalu datang dari luar.
Kadang ia muncul dari dalam diri sendiri.
Mungkin Inilah "Transparent World" yang Perlu Kita Latih
Tanjiro melihat otot yang bergerak.
Kita perlu belajar melihat ego yang bergerak.
Tanjiro melihat aliran darah.
Kita perlu belajar melihat aliran niat.
Tanjiro melihat perubahan kecil sebelum serangan datang.
Kita perlu belajar melihat perubahan kecil sebelum dosa menjadi tindakan.
Tanjiro menjadi lebih efektif karena ia tidak hanya melihat apa yang dilakukan lawannya, tetapi juga memahami tanda-tanda yang mendahului gerakan tersebut. Dalam cerita, Transparent World membuat persepsinya terhadap gerakan tubuh menjadi jauh lebih tajam. (Demon Slayer Wiki)
Dalam kehidupan nyata, kita pun perlu semacam kejernihan seperti itu.
Bukan agar kita menjadi orang yang sibuk mencurigai orang lain.
Justru sebaliknya.
Semakin jernih melihat, semakin sedikit kita sibuk mengamati orang lain dan semakin serius mengamati diri sendiri.
Ketika melihat orang lain mendapat pujian, kita bisa bertanya:
"Kenapa hati saya tidak nyaman?"
Ketika pendapat kita ditolak:
"Kenapa saya begitu ingin menang?"
Ketika ada orang lain lebih sukses:
"Kenapa saya merasa harus membuktikan sesuatu?"
Ketika amal kita tidak diketahui:
"Apakah saya tetap akan melakukannya?"
Ketika tidak ada seorang pun yang melihat:
"Apakah saya masih takut kepada Allah?"
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin sederhana.
Tetapi bisa jadi justru di sanalah proses muhasabah dimulai. Ini adalah ciri utama Ulil Albab, manusia-manusia kepala pabrik yang selalu mengolah realitas hidup dengan pertanyaan-pertanyaan kontemplatif untuk memicu kesadaran batinnya sendiri .
Bukan Menjadi Sempurna, Tetapi Menjadi Lebih Cepat Sadar
Saya rasa tujuan akhirnya bukan menjadi manusia yang tidak pernah salah.
Kita tetap bisa salah.
Kita tetap bisa lalai.
Kita tetap bisa terjebak ujub.
Kita tetap bisa ingin dipuji.
Kita tetap bisa melihat sesuatu yang seharusnya kita hindari.
Bedanya, semoga kita lebih cepat menyadarinya.
Dulu mungkin kita baru sadar setelah marah.
Sekarang mulai sadar ketika emosi mulai naik.
Dulu baru sadar setelah pamer.
Sekarang mulai sadar ketika hati mulai mencari pujian.
Dulu baru sadar setelah terlalu jauh melihat.
Sekarang mulai sadar pada pandangan pertama yang perlu segera dialihkan.
Dulu baru sadar setelah menyakiti orang.
Sekarang mulai menangkap kata-kata yang hampir keluar dari mulut.
Ini bukan kesempurnaan.
Ini pertumbuhan kesadaran.
Dan mungkin semakin peka kita terhadap gerakan ego di dalam diri, semakin cepat kita menyadarinya sebelum ia mengendalikan tindakan. Sebagaimana nasehat yang sering diulang: "Membentuk alam bawah sadar, caranya adalah dengan membentuk alam sadar!" . Perubahan sejati selalu bermula dari keputusan sadar (conscious mind) saat demi saat untuk terus meluruskan hati .
Pada Akhirnya, Dunia yang Perlu Kita Tembus Adalah Diri Sendiri
Saya membayangkan kembali Tanjiro ketika memasuki Transparent World.
Dunia yang sebelumnya tampak biasa tiba-tiba menjadi berbeda.
Ada sesuatu yang selama ini sebenarnya ada di sana, tetapi tidak terlihat.
Otot bergerak.
Darah mengalir.
Tubuh memberi tanda.
Gerakan kecil mulai membentuk serangan.
Lalu Tanjiro bisa membaca sesuatu yang sebelumnya tersembunyi.
Mungkin kehidupan kita juga begitu.
Allah sebenarnya selalu ada.
Allah selalu melihat.
Allah mengetahui apa yang tampak maupun yang tersembunyi.
Yang perlu berubah bukan keberadaan-Nya.
Yang perlu berubah adalah kesadaran kita.
Semakin sadar kepada Allah, semakin banyak hal yang mulai terlihat.
Kita mulai melihat bahwa pujian bisa menjadi ujian.
Keberhasilan bisa melahirkan ujub.
Kebaikan bisa tercampur keinginan untuk dilihat.
Pandangan kecil bisa menjadi pintu panjang.
Kemarahan bisa dimulai dari luka harga diri yang sangat kecil.
Dan dosa besar kadang mempunyai gerakan awal yang sangat sederhana.
Mungkin karena itu, orang yang semakin sadar bukanlah orang yang merasa dirinya sudah aman.
Justru ia semakin sering berkata dalam hati:
"Ya Allah, saya tahu diri saya lemah. Tolong tunjukkan kepada saya apa yang tidak mampu saya lihat dari diri saya sendiri."
Tanjiro perlu Transparent World untuk membaca gerakan lawannya.
Kita membutuhkan kejernihan hati untuk membaca gerakan diri sendiri.
Karena barangkali perjuangan terbesar bukan selalu tentang mengalahkan sesuatu yang ada di luar diri.
Kadang perjuangan terbesar adalah menyadari sesuatu yang diam-diam sedang tumbuh di dalam diri—sebelum ia berubah menjadi perbuatan.
Semakin kita sadar, semoga semakin sedikit yang harus kita sembunyikan dari Allah, karena semakin kita sadar bahwa sebenarnya tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.
Wallahua'lam.
