Penciuman Tanjiro dan Seni Membaca Kehidupan: Menyelami Makna Sejati Iqra’

Setelah kita membicarakan Transparent World dalam Demon Slayer, sekarang kita kembali kepada kemampuan Tanjiro yang sebenarnya sudah muncul sejak awal cerita: penciumannya yang sangat tajam. Kemampuan ini pada awalnya tampak sederhana. Tanjiro hanya bisa mencium sesuatu yang tidak bisa dicium orang lain. Tetapi semakin jauh cerita berjalan, kita melihat bahwa penciumannya bukan sekadar kemampuan melacak bau. Ia seperti sedang belajar membaca kehidupan melalui aroma.


Sejak masih kecil, Tanjiro sudah terbiasa dengan berbagai macam aroma. Ia bahkan dapat mengenali bau dari sesuatu yang terjadi di sekitarnya dan mengikuti jejak yang tidak terlihat oleh mata. Ketika keluarganya dibantai, ia mampu mencium keberadaan Muzan dari aroma yang tertinggal. Dalam perjalanan berikutnya, kemampuan itu berkembang menjadi semacam radar: ia dapat mencium bahaya sebelum bahaya itu terlihat, menemukan keberadaan iblis, mengenali arah serangan, bahkan merasakan perubahan yang sangat halus dalam sebuah situasi.

Yang menarik, penciuman Tanjiro semakin lama semakin bukan sekadar tentang “apa yang ada di sana?”, tetapi juga “apa yang sedang terjadi?”. Ia dapat menangkap aroma emosi dan keadaan batin tertentu. Dalam beberapa adegan, Tanjiro mampu mencium kesedihan, kemarahan, ketakutan, bahkan penyesalan. Ketika menghadapi iblis yang sedang berada di penghujung hidupnya, ia tidak hanya melihat sosok musuh yang kalah. Ia dapat merasakan kesedihan dan penderitaan yang tersisa di balik sosok tersebut.

Di sinilah Tanjiro berbeda dari orang yang hanya melihat permukaan. Orang lain mungkin melihat iblis sebagai musuh yang harus dikalahkan. Tanjiro tetap melawan karena memang itulah tanggung jawabnya, tetapi ia juga mampu menangkap sesuatu yang lebih dalam. Ketika menghadapi iblis seperti Rui, misalnya, ia dapat merasakan adanya kesedihan di balik kebencian dan kekejaman. Memahami seseorang tidak berarti membenarkan perbuatannya. Kita bisa tetap mengatakan bahwa sesuatu itu salah, sambil berusaha memahami manusia yang berada di balik kesalahan tersebut.

Kemampuan ini juga muncul ketika Tanjiro berhadapan dengan manusia. Ia dapat menangkap perubahan emosi yang tidak selalu diucapkan. Bahkan ketika berhadapan dengan Shinobu, ia dapat merasakan ada kemarahan dan emosi yang tersembunyi di balik senyum dan sikap tenangnya. Ini menarik, karena manusia sering kali memang tidak mengatakan apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan. Kita berkata “tidak apa-apa”, tetapi nada suara kita berkata lain. Kita tersenyum, tetapi orang yang cukup peka mungkin tahu bahwa ada sesuatu yang sedang kita sembunyikan.

Tanjiro seperti mengajarkan sebuah kemampuan yang sebenarnya tidak membutuhkan hidung seperti dirinya: kemampuan memperhatikan. Ada orang yang berbicara kepada kita selama lima menit, tetapi kita hanya menunggu giliran untuk menjawab. Ada orang tua yang mulai lebih banyak diam, tetapi kita tidak bertanya. Ada teman yang tiba-tiba berubah, tetapi kita menganggapnya biasa. Ada pasangan yang mengatakan “terserah”, lalu kita benar-benar menganggapnya terserah. 😄 Kita mendengar kata-katanya, tetapi tidak membaca keadaannya.

Mungkin di sinilah kita bisa masuk kepada makna Iqra’ yang lebih dalam. Iqra’ memang berarti membaca, tetapi membaca dalam pengertian yang lebih luas bukan sekadar melafalkan tulisan. Ia juga mengandung gagasan membaca dengan perhatian, merenungkan, menelaah, dan memahami. Bahkan menariknya, dalam QS. Al-‘Alaq ayat pertama, objek dari perintah Iqra’ tidak disebutkan secara eksplisit: “Iqra’ bismi rabbikal-ladzi khalaq” — bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dari sini kita bisa mengambil sebuah refleksi bahwa objek untuk dibaca tidak hanya teks, tetapi juga kehidupan, alam, pengalaman, manusia, dan berbagai peristiwa yang berada di hadapan kita.

Tetapi ada satu hal penting: membaca kehidupan bukan berarti kita boleh merasa mampu membaca pikiran orang lain atau mengetahui kehendak Allah secara langsung. “Membaca pikiran Tuhan” hanyalah metafora. Kita tidak mengetahui perkara gaib sesuka kita. Yang bisa kita lakukan adalah membaca tanda-tanda, membaca petunjuk wahyu, membaca ciptaan, membaca pengalaman, lalu bertanya dengan rendah hati: Apa yang bisa saya pelajari dari semua ini? Apa yang perlu saya perbaiki? Apa tindakan yang seharusnya saya lakukan?

Dan di sinilah bagian “bismi rabbikal-ladzi khalaq” menjadi penting. Kita membaca kehidupan, tetapi tidak melepaskan kehidupan dari Sang Pencipta. Kita berpikir, tetapi tidak merasa pikiran kita adalah kebenaran mutlak. Kita mengamati manusia, tetapi tidak merasa mengetahui seluruh isi hatinya. Semakin banyak yang kita baca, seharusnya semakin besar pula kesadaran bahwa masih banyak hal yang belum kita pahami.

Tanjiro menarik karena penciumannya yang semakin tajam justru membuat dunia yang ia hadapi semakin kompleks. Ia mencium bahaya sebelum terlihat. Ia mencium emosi yang tidak diucapkan. Ia mencium kesedihan di balik kemarahan. Ia bahkan dapat menangkap penyesalan yang muncul ketika seseorang berada di penghujung hidupnya. Semakin tajam penciumannya, semakin banyak yang harus ia pahami.

Mungkin begitu pula dengan Iqra’. Tujuan membaca bukan sekadar supaya kita bisa mengatakan, “Saya tahu.” Tujuannya adalah supaya kita semakin mampu memahami, semakin hati-hati dalam menilai, semakin peka terhadap orang lain, dan akhirnya semakin tepat dalam bertindak.

Jadi kita tidak perlu memiliki hidung Tanjiro untuk belajar membaca kehidupan. Kita hanya perlu belajar memperhatikan. Membaca wajah. Membaca keadaan. Membaca kesalahan diri sendiri. Membaca pengalaman. Membaca alam. Membaca manusia. Dan tentu saja membaca Al-Qur’an bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan hati dan pikiran.

Sebab mungkin selama ini kehidupan tidak pernah berhenti memberi kita pelajaran. Kita saja yang terlalu sibuk mencari sesuatu untuk dibaca, sampai lupa bahwa kehidupan itu sendiri sedang terbuka lebar di hadapan kita.

Wallahua’lam.

Lukman

Ditulis oleh Lukman

Penulis & pengembang di Blog Autada. Berbagi formula praktis Excel & Google Sheets, analisis pasar emas dunia (Autada Gold Pro / XAUUSD), refleksi hikmah Islami, serta solusi komputasi sehari-hari.